Virus Zika dan Indonesia

Dunia saat ini tengah digemparkan wabah penyakit baru. Baru-baru ini WHO merilis status ‘Darurat Virus Zika’ yang berlaku untuk seluruh masyarakat dunia. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya kasus akibat virus Zika selama pertengahan tahun 2015 hingga awal tahun 2016. Terjadi ledakkan kasus yang terjadi di daerah beriklim tropis seperti Amerika Latin dan kepulauan Pasifik serta Karibia. Tercatat ada 4000 kasus yang dilaporkan otoritas kesehatan negara Brazil. Ini menjadi masalah serius karena tersebarnya virus Zika meningkat dibarengi dengan kasus mikrosefali yang terjadi pada bayi. Mikrosefali adalah cacat kongenital pada bayi dengan tidak berkembangnya SSP (otak) dengan ciri-ciri kepala kecil. Tercatat, jumlah bayi yang lahir dengan kelainan kongenital mikrosefali di Brazil mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal itu membuat timbul dugaan kuat bahwa virus Zika memberikan dampak KOMPLIKASI penyakit kongenital mikrosefali. Sekali lagi ditekankan, mikrosefali akibat virus Zika masih merupakan DUGAAN kuat. Hingga hari ini masih dilakukan penelitian yang intens untuk membuktikan dugaan kuat tersebut. Untuk mencegah jumlah ledakkan kasus yang besar dan mewabah serta hal-hal yang tidak diinginkan keseluruh dunia, WHO segera menyatakan status ‘Darurat Virus Zika’.

Jadi, untuk memberi pemahaman pada masyarakat sekitar, gejala virus Zika sendiri tidak seseram statusnya ‘Darurat Virus Zika’. Status ‘Darurat Virus Zika’ itu lebih ditekankan kepada DUGAAN kuat KOMPLIKASI yang mengakibatkan mikrosefali pada bayi. Bahkan level gejala yang ditimbulkan virus Zika ini masih di bawah virus Demam Berdarah Dengue. Namun, itu bukan berarti kita harus memandang wabah penyakit ini dengan sebelah mata.

Untuk menambah pengetahuan tentang virus Zika sendiri,  virus Zika adalah virus yang muncul dari nyamuk  pertama kali diidentifikasi di Uganda pada tahun 1947 pada monyet. Hal ini kemudian diidentifikasi pada manusia pada tahun 1952 di Uganda dan Republik Tanzania. Wabah penyakit virus Zika telah tercatat di Afrika, Amerika, Asia dan Pasifik. Vektor pembawa penyakit virus Zika ini adalah nyamuk Aedes yang juga membawa penyakit demam berdarah. Orang dengan penyakit virus Zika biasanya memiliki gejala-gejala yang dapat berupa demam ringan, ruam kulit, konjungtivitis, nyeri otot dan sendi, malaise atau sakit kepala. Gejala ini biasanya berlangsung selama 2-7 hari.

Dapat disimpulkan bahwa Indonesia merupakan daerah yang cukup rawan terjadi wabah virus Zika. Mengingat Indonesia juga merupakan negara tropis. Apalagi sekarang juga sedang terjadi musim penghujan. Tempat-tempat lembab dan kumuh akan menjadi rumah dari perkembangbiakkan nyamuk, terutama nyamuk Aedes. Hingga info terbaru dikeluarkan belum ada obat yang tersedia untuk virus Zika. Pihak WHO masih terus meneliti guna untuk memastikan dugaan kuat dan menciptakan vaksin yang tepat. Jadi, virus Zika ini hanya mampu dilakukan pencegahan dan pengontrolan dengan mengurangi kontak manusia dengan nyamuk. Pencegahan dan pengontrolan dapat dimulai dari manusianya sendiri. Cukup sederhana, ada beberapa cara yang dapat dilakukan :

  1. Melakukan 3M (Menutup, Menguras dan Mengubur),
  2. Menerapkan hidup bersih,
  3. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan menjaga pola makan dan rutinitas agar tidak mudah terserang penyakit,
  4. Bagi teman-teman yang senang travelling untuk lebih memperhatikan tempat tujuannya rawan atau tidak dan lebih menjaga kesehatan tubuh.

Masyarakat Indonesia tidak perlu takut, selama masih menerapkan pola hidup sehat dan menjaga lingkungan.

Diharapkan tulisan ini memberi info yang jelas dan tidak seperti pemberitaan media mainstream yang terkadang berlebihan.

Bahan-bahan yang menunjang tulisan ini di dapat dari situs WHO.int.

-salam, gifaryger